Cari Yang Lain :

14 February 2012

Gaya "Big Lie" Amerika ala Goebbels

------------------- SHARE --------------------
-------------------------------------------------


Adolf Hitler tanpa Joseph Goebbels, ibarat Nazi tanpa lambangnya.”

-Freddy Agustaf-



Kemenagan partai NAZI pada tahun 1932  menjdikan Hitler sebagai Fuhrer (pemimpin)  Reich ke- III Jerman Menurut sejarah Mainstream  kemenangan itu terjadi karena pemerintahan sebelumnya (partai berkuasa) tak  mampu mengatasi imbas krisis ekonomi yang terjadi di eropa , sehingga partai nazi dengan gaya radikalnya mendapat momentum untuk memasukan faham  Nasionalis sosialis berbumbu fasisnyanya pada masyarakat Jerman saat itu,dan banyak sejarawan menganggap kemenangan Partai Nazi  ayang rasis dan fanatik itu adalah sebagai cikal bakal lahirnya perang dunia II.

Dalam Pemerintahannya Hitler banyak memasukan Tokoh-tokoh Fanatik dari Partainya (Nazi) seperti Heinrich Himmler (sebagai Reichsfuhrer-SS) yang konon dulunya sebagai perternak ayam, sedangkan sosok fanatik lainnya yang tak kalah berpengaruhnya adalah Dr. Joseph Goebblels. Untuk yang disebut terahir ini oleh Hitler dijadikan sebagai Mentri  pencerahan dan Propaganda (Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda), Goebblels seperti Hitler dia Orator ulung dengan pidato dan tulisan yang memukau Goebblels sukses meyakinkan masyarakat  Jerman untuk benci  terhadap Yahudi ,Sekutu dll serta untuk terus perang dan mempertahankan negara bahkan hingga saat-saat terahir menjelang kekalahan Jerman, saat Jerman dinyatakan kalah Goebblels  ditemukan tentara beruang merah (Uni Soviet) dalam keadaan meninggal dunia dalam keadaan setengah Terbakar, kematiannya diduga karena bunuh diri  dengan menembak kepalanya dan memerintahkan anak buahnya untuk membakar jasadnya.

Beberapa kalangan menganggap Dr. Joseph Goebblels sebagai bapak propaganda modern. Karena metode-metode propagandanya secara efektif  memanfaatkan perkembangan kemajuan Zaman dalam hal ini yang dimaksud adalah alat komunikasi massa (KoranMedia massa ,dll) ,konon kutipan favorit yang mewakili ide propagandanya adalah (Big lie) sebagai berikut:
If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it. The lie can be maintained only for such time as the State can shield the people from the political, economic and/or military consequences of the lie. It thus becomes vitally important for the State to use all of its powers to repress dissent, for the truth is the mortal enemy of the lie, and thus by extension, the truth is the greatest enemy of the State.”
Translate by google:
Jika Anda mengatakan sebuah kebohongan cukup besar dan terus mengulanginya, orang akhirnya akan datang untuk percaya. Kebohongan hanya dapat dipertahankan untuk waktu seperti Negara bisa melindungi rakyat dari konsekuensi politik, ekonomi dan / atau militer kebohongan. Hal demikian menjadi sangat penting bagi Negara untuk menggunakan semua kekuasaannya untuk menekan perbedaan pendapat, untuk kebenaran adalah musuh bebuyutan dari kebohongan itu, dan dengan demikian dengan perluasan, kebenaran adalah musuh terbesar negara
Di Lain pihak sebagai pelaku sejarah perang dunia II Amerika dan sekutunya  sangat paham betul pentingnya propaganda.Sehinga dalam perkemangannya negara tersebut mempelajari dengan efektif petuah dari propagandis Nazi diatas bahkan mampu mengembangkannya dengan baik sehingga dengan konsep yang sama Amerika dan sekutunya mencoba menguasai dunia dengan media-media propagandanya bahkan momentum tragis seperti teror WTC pun dijadikan alat propaganda untuk menjajah Afganistan. Lain halnya  dalam kasus Invasi Irak dengan dongeng kepemilikan senjata pemusnah massalnya media-media  pro imprialis waktu itu mengiring  Opini internasional untuk percaya dengan alasan- alasan yang megatakan bahwa Sadam Husein adalah ditaktor dan pelanggar ham berat, hal itu selalu diulang secara masif  sehingga ahirnya menjadi legitimasi Amerika dan sekutunya untuk menjajah Irak, Libya pun tak jauh beda media pro imprialis secara massif menginfokan secara tidak berimbang tentang dongeng-dongeng Kediktatoran Khadafi dan pelanggaran ham berat  bahkan terjadi pemalsuan informasi secara nyata padahal yang demikian itu jelas melanggar kode etik jurnalistik, akan tetapi karena ide Dr. Joseph Goebblels “Big Lie” sudah sangat mengakar maka tidak ada istilah kode etik yang ada hanya kepentingan,tentu efeknya dapat diduga  propaganda atas Libya begitu dasyat sehingga bukan hanya dunia internasional yang mendapat legitimasi untuk bertindak terhadap Libya akan tetapi juga masyarakat lokal yang notabane hal itu semakin memperburuk keadaan.  Dan kini  propaganda mengarah ke Suriah  dengan tuduhan yang mirip dengan Libya “kediktatoran dan pelanggaran ham berat” rezim Suriah diarahkan untuk dijatuhkan  akan tetapi upaya propaganda  di Suriah  terlalu kasar sehingga dunia Internasional yang independen (oposisi) tidak sepenuhnya merestui seperti China dan Rusia. Tidak  hanya sampai disitu Mesin Perang Propaganda Amerika moncongnya mengarah ke Iran, Opini dunia digiring untuk mengkutuk  Iran karena kepemilikan teknologi nuklirnya  (hampir mirip dengan tuduhan terhadap Irak)  dalam kasus Iran cukup menarik sebab Iran tak kalah gencarnya mengklarifikasi bahkan menyerang balik Opini-opini media pro Imprialis dengan media-media multi nasionalnya.  Begitu dasyatnya media propaganda mempengaruhi opini  Dunia bahkan  jika ada media independen yang meragukan maka akan terkucilkan parahnya terkadang dianggap sebagai media anti hak asasi manusia atau media teroris dan  julukan negatif lainnya. Apakah kita termasuk orang yang termakan propaganda media  pro imprialis?Semoga Tidak ! Media yang sehat adalah  yang berimbang.

"Mengatakan Dr. Joseph Goebblels  pencetus metode“ Big Lie” adalah distorsi propaganda paling Dasyat di era perang dunia II." .
- Jacques Ellul :



· * Tulisan Yang di coret contoh gaya diksi dalam propaganda

No comments:

Post a Comment

-

Related Posts with Thumbnails